Ketika terlalu banyak kenangan, manakah yang bisa dipercaya sebagai yang bukan fatamorgana?
Mengingatmu seperti menyadarkan bahwa hidup terus berjalan. Menyakitkan.
Tidakkah ajaib sebuah peristiwa bernama hujan? Dia mendaur ulang air, menjatuhkannya, dan kemudian kembali menguapkannya ketika panas ada.
Seandainya ingatanpun demikian.
memang tidak seharusnya menafikkan ingatan, karena pada suatu hari, ketika semua tertinggal jauh di belakang, dengan sendirinya otak (dan hati) mengeliminasi apa yang berarti. dan apa yang tidak. menggerus apa yang penting, dan mudah dilupakan. bahkan ketika membaca catatan usang pun, tak ada lagi getar yang dihadirkan.
tapi tidakkah kita seperti menghadirkan kembali masa lalu, ketika kita berbincang disitu?
Heart beats fast. Fast. Fast.
Kali ini, lagilagi, senja tertelan bentangan gedung tinggi. Ingin kulompati saja, kucakar langit, agar kamu tau, aku menunggu.
“You know what, I’m so glad to have him.. Dia spt jembatan, yang menerjemahkanku ke dunia luar, dan menjembatani dunia luar yg selama ini tidak pernah aku ingin pahami”
Bulan terlalu cepat datang, mungkin dia lupa membedaki mukanya sebagian.
Sebenarnya, apa yang memberi jarak pada kenangan? Waktu? Atau hati yang telah berlalu?